Everything is Knowledge

dari dan untuk Kalimantan Timur

Pemkot Tak Miliki Data Banjir

Posted by Didin pada Juni 23, 2007

KaltimPost – Sabtu, 23 Juni 2007
Penyebab Utama Bukan Tingginya Curah Hujan
SAMARINDA – Banjir di sebagian wilayah Samarinda Utara dan Samarinda Ilir belakangan ini bukan disebabkan curah hujan tinggi. Namun murni akibat meluapnya air dari Waduk Benanga. Sungai Karang Mumus (SKM) yang merupakan satu-satunya aliran air ke Sungai Mahakam tak mampu menampung debit air sehingga menggenangi kawasan dataran rendah. Forecaster Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Samarinda, Sutamsi menyebutkan, data curah hujan selama Juni tertinggi Minggu (17/6) mencapai 57,0 milimeter (mm). “Sejak pagi air menggenangi beberapa kawasan dataran rendah. Sekarang ada yang sudah surut dan ada yang terus merambat naik. Selama saya bekerja sejak 1999, baru kali ini kebanjiran,” kata Sutamsi kepada Kaltim Post, kemarin.

Bahkan kantor BMG di sebelah kiri Bandara Temindung juga tergenang. Saat harian ini ke BMG sekitar pukul 15.00 kemarin, air terlihat masih menggenangi halaman. Sutamsi mengaku, selama ini tampaknya tidak ada korelasi langsung data curah hujan dengan banjir.

Sutamsi juga mengeluhkan tidak adanya data banjir di Pemkot Samarinda, baik dari Dinas PU dan Kimpraswil Kaltim maupun dari Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP) Samarinda. “Tak bisa dipastikan ada korelasi antara curah hujan dengan banjir,” kata Sutamsi.

Selama empat hari terakhir ini, curah hujan tertinggi 57,0 mm terjadi Minggu (17/6) lalu. Sedang Sabtu (16/6) hanya 25,2 mm dan Senin (18/6) tercatat 23,3 mm, kemudian Rabu (20/6) hanya 9,5 mm. Sedangkan Selasa (19/6) tidak hujan. “Tertinggi hari Minggu memang di atas rata-rata,” paparnya.

BMG mencatat, curah hujan tertinggi di Samarinda selama enam bulan terakhir terjadi Selasa (9/1) yaitu 52,0 mm, (7/2) 50,1 mm, (22/3) 48,0 mm, (8/4) 81,3 mm, (11/5) 30,9 mm, dan (17/6) 57,0 mm. Sementara sejak 1978 hingga 2006, curah hujan tertinggi terjadi pada 22 September 1981, yaitu 145,5 mm.

Berdasarkan grafis Januari-Desember, curah hujan tertinggi selama 28 tahun yang dicatat BMG, hanya sehari dalam sebulan selama 28 tahun. “Bila rata-rata curah hujan tertinggi secara akumulatif, maka curah hujan tertinggi Desember mencapai 214,9 mm. Kemudian rata-rata tertinggi kedua bulan November 189,9 mm,” pungkas Sutamsi.

Karena itu, Sutamsi menyebutkan, kadang-kadang tidak ada korelasi tinggi curah hujan dengan banjir. Warga Samarinda mengenal kejadian Juli 1998 adalah banjir terbesar. Sementara data BMG menunjukkan, pada tahun itu curah hujan tertinggi hanya pada 9 Juni tercatat 85,0 mm dan 26 Desember 74,3 mm.

Enam bulan terakhir ini curah hujan tertinggi terjadi April (81,3 mm). Tapi banjir besar terjadi Februari, yang curah hujan tertingginya hanya 50,1 mm. (ar)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: