Everything is Knowledge

dari dan untuk Kalimantan Timur

Ada Teroris di Tengah Kita!

Posted by Didin pada Juni 24, 2007


Hot Topic Mon, 18 Jun 2007 11:58:00 WIB
Sepuluh Juni lalu, polisi menangkap seorang tersangka teroris di Banyumas, Jawa Tengah. Pada saat itu, nama tersangka disebut sebagai Yusron Mahmudi. Belakangan, terungkap kejutan yang cukup mengejutkan. Yusron Mahmudi ternyata Abu Dujana, nama yang selama ini dicari polisi terkait kasus peledakan Hotel JW Marriott, 5 Agustus 2004 lalu. Dibekuknya Abu Dujana patut disambut dengan syukur alhamdullilah dan acungan jempol. Bagaimana tidak? Pria beralias banyak ini (selain Yusron Mahmudi, ada lagi Ainul Bahri) adalah pemimpin sayap militer Jamaah Islamiyah (JI), organisasi teroris berjaringan luas di Asia Tenggara. Dalam hierarki JI pun, Abu Dujana lebih tinggi ‘pangkat’-nya dibanding Noor Din M Top, yang sampai saat masih berstatus buron.

Penangkapan Abu Dujana cukup menimbulkan pro-kontra. Menurut pengakuan istri Yusron kepada wartawan Tempo Erwin Dariyanto, Dujana ditangkap dalam perjalanan naik motor bersama ketiga anaknya. Kala itu ada prosesi pemilihan kepada desa di kampung mereka, Kemranjen, Banyumas, Jawa Tengah. Di tengah jalan, motor mereka dipepet oleh sebuah mobil. Kemudian Yusron disuruh turun dengan tangan diletakkan di atas kepala, dan diminta berjongkok. Saat berjongkok, Yusron ditembak dari jarak dekat, di depan anak-anaknya. (Koran Tempo, 18 Juni 2007).

Pengakuan sang istri, Sri Murdiyati (35 tahun), kembali memunculkan hal-hal menarik tentang penangkapan tersangka teroris, terutama yang terjadi di Indonesia.

Pertama, keluarga tersangka — dalam hal ini istri, tidak menyangka kalau sang suami adalah buronan polisi dengan nama yang secara berkala dipublikasikan media.

Kedua, hal ini diakibatkan fakta bahwa para tersangka teror yang ditangkap itu sebenarnya orang biasa dari ekonomi bawah yang dikenal berkelakuan baik dalam masyarakat. Selama ini mereka dikenal sebagai tukang jahit, tukang servis elektronik, guru mengaji atau penjual keliling.

Hal ini semakin mengukuhkan asumsi bahwa terorisme semakin mendekat dalam garis privasi kita. Artinya, bukan tidak mungkin kalau tetangga kita yang dikenal berkelakuan baik ternyata nama yang dicari-cari polisi!

Siapa Abu Dujana?
Abu Dujana sendiri memenuhi karakteristik tersangka teroris yang selama ini didengungkan media. Menurut sang istri, sehari-hari Abu Dujana alias Yusron Mahmudi adalah tukang jahit yang kerap emdnapat pesanan tas dan seragam taman kanak-kanak. Aktivitasnya tak jauh dari sholat fardhu lima kali sehari di mesjin dan mengajar di taman pendidikan Al-Quran sehabis magrib.

Padahal, menurut catatan polisi, Abu Dujana adalah anggota JI yang cukup berpengaruh. Pria kelahiran Cianjur, Jawa Tengah, 39 tahun lalu ini pernah mengikuti latihan di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan, untuk kemudian bergabung dengan Moro Islamic Liberation Front (MILF) di Filipina.

Hierarkinya dalam JI cukup tinggi, antara lain sebagai pemimpin sayap militer JI yang disebut Askary. Ia kerap memberikan pelatihan di Gunung Sumbing dan Sindoro Jawa Tengah. Pelatihan yang diberikannya antara lain bongkar pasang senapan jenis M-16, bahan peledak, taktik kerja sama, dan menembak dengan senapan angin. Berkat bimbingannya, anak-anak didiknya mampu membuat bom bahan kimia dengan daya ledak yang lebih dahsyat daripada bom Bali.

Menariknya, ketika ditangkap, Abu Dujana menyebut Noor Din M Top lah pelaku peledakan bom JW Marriott, dan bahwa ia tidak setuju terhadap aksi peledakan tersebut. Pria yang dituding terlibat dalam serangkaian peledakan bom di Indonesia ini mengisahkan adanya sebuah pertemuan sebelum peledakan Marriot. Ketika itu Noor Din membawa sejumlah orang dari Sumatera, yang kemudian diketahui sebagai pelaksana peledakan bom di Marriott, yaitu Rais dan Tohir (alis Masrizal alias Ali Umar — keduanya tersangka pelaku bom Marriott). (Koran Tempo, 18 Juni 2007).

Perpecahan di Tubuh JI
Pengakuan Abu Dujana ini sekaligus menunjukkan indikasi adanya perpecahan di tubuh JI. Menurut Sidney Jones, Direktur Internasional Crisis Group untuk Asia Tenggara, perpecahan ini dipicu oleh adanya perbedaan ideologi yang meletup pada 1999. Salah satu indikasinya, serangkaian kasus pengeboman pada 1999-2001 lebih banyak dilakukan oleh kelompok yang berbasis di Malaysia, yakni Hambali, Muklas dan Amrozi. Menurutnya, tindakan itu tidak disetujui oleh tokoh-tokoh JI.

Setelah tertangkapnya Abu Dujana, kini polisi memfokuskan perhatian mereka pada keberadaan Noor Din M Top dan sejumlah nama lain, termasuk Dulmatin. Menurut kabar yang beredar, Noor Din sendiri tengah berada di Indonesia.

Demi menangkap mereka, wilayah pencarian kini kian diperketat. Sebut saja Kepolisian Resor Klaten, yang meningkatkan operasi terhadap kendaraan bermotor pada malam hari, mulai minggu kemarin. Operasi ini difokuskanp di perbatasan antardaerah. Selain itu, pengawasan juga dilakukan di Pelabuhan Penyebarangan Merak. (putri/ sumber: Media Indonesia Online, Koran Tempo)

Images: Gettyimages.com

Sumber: CBN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: